Sabtu, 07 Juni 2008

Cinta Untuk Sahabat

Suasana perpustakaan UNJ begitu lengang, hanya ada beberapa orang yang sedang asyik menekuni bacaannya. Lala memandangi ruang perpustakaan dengan seksama hingga ia memutuskan untuk duduk di pojok ruangan yang tepat menghadap halaman universitas. Jemari lentiknya mulai bergerak mencatat isi buku yang ia baca. Sesaat ia menengok jam yang melingkar di pergelangan tangannya, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 11.25.
“Kok, Rima belum datang juga ya!” ujar hatinya cemas. Untuk menenangkan hatinya, ia pun mengalihkan pandangannya ke luar jendela, mengamati rintik-rintik hujan yang mulai turun. Pikiran Lala pun melayang pada peristiwa tiga tahun silam, tepatnya saat ia masih berada di kelas 2 SMU.
“La, ada yang mau aku omongin sama kamu…” ujar Raga yang telah duduk di hadapannya.
“Mau ngomong apa sih Ga?” kok serius banget sih!” Tanya Lala sambil merapikan buku pelajaran yang masih tergeletak di atas meja.
Perlahan Raga memegang jemari Lala yang mungil. “La, aku mau kamu menjadi seseorang yang paling berharga dalam hidup aku” ujar Raga sambil menatap Lala tajam.
Lala pun menarik tangannya dan menunduk malu. Jantungnya berdegup sangat kencang. Wajah putihnya kini merona kemerahan, “Tapi….apa aku layak untuk kamu Ga?” jawab Lala dengam sedikit ragu.
“Aku yakin La, kamu adalah yang terbaik untuk aku” Rga meyakinkan. Lala terdiam, bibirnya seolah kelu untuk berucap….
“Hei ngelamun aja!!!” seru Rima yang membuyarkan lamunan Lala.
“Lho kok baru datang, udah telat 1 jam nih!!!” protes Lala sambil memonyongkan bibir mungilnnya.
“Sorry…sorry…tadi ada kuliah umum jadinya agak lama dikit” jelas Rima dengan wajah memelas.
Lala pun tersenyum sebagai tanda ia memaafkannya.
“La, Raga tahu kalo kamu mau ke sini?” Tanya Rima.
Lala menggeleng, “Aku sengaja kok gak ngasih tau dia takut ganggu kuliahnya. Emangnya kenapa?”
“Oh…ga…ga…ga kenapa-napa kok!” jawab Rima dengan senyum terkembang.
Allahu akbar…Allahu akbar…suara adzan memecah kebiasuan di antara mereka. Tanpa perlu dikomando lagi mereka bergegas menuju masjid untuk melaksanakan shalat dzuhur.
Setelah selesai shalat dzuhur, Rima menata kembali tasnya yang dipenuhi oleh diktat kuliahnya.
“La, boleh gak aku cerita sama kamu?” tanya Rima ragu.
“Ya boleh lah, emangnya mau cerita apa sih non!” sahut Lala sambil mencybit hidung mancung Rima.
“Tapi kamu gak marah kan La?” lanjut Rima.
Lala pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“la, a…a…a..ku…su…ka sama….Raga” ucapnya terputus-putus.
Lala bagaikan tersambar petir di siang bolong. Ternyata sahabatnya sendiri menyukai orang yang ia cintai.
“La…Lala…halo…” ujar Rima sambil mengerak-gerakkan tangannya di depan mata Lala. “Kenapa La, kamu marah ya?” tanyanya.
“Marah? Eng…enggak kok! Aku gak marah” jawab Lala sambil memaksa bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman. Ingin rasanya Lala berlari dan melepas kesedihannya. “Rim, kita pulang yuk! Udah siang nih!” Lala mengalihkan pembicaraan.
“Ok, tapi kita pamit sama Raga dulu ya!” pinta Rima sambil menarik tangan Lala. “Hai Raga, lagi ngapain? Kita pulang duluan ya!” ujar Rima.
“Rima…tunggu! Aku pinjam Lala dulu ya! Ada yang mau aku omongin sama dia” ijin Raga. “La, kamu kok ga bilang sih kalo kamu mau main ke kampus? Emangnya kamu gak kuliah?” tanya Raga.
“aku Cuma gak mau ganggu kuliah kamu aja kok Ga! Kebetulan hari ini di kampusku ada acara jadinya aku main ke sini” jawab Lala singkat. Kesenyapan kembali mengisi jarak anatar lala dan Raga. “Ga, aku boleh minta sesuatu ga? Tapi kamu janji ya mau melakukannya” ujar Lala ragu.
“Kalo aku bisa pasti aku lakuin demi kamu la!”
“Ga, aku mau …kamu menjaga Rima untuk aku” ucap Lala dengan suara tertekan menahan tangisnya.
“Apa? Maksud kamu apa La? Kok kamu ngomongnya ngaco gitu sih!” tanya Raga.
Lala tertunduk. Tangisnya pecah. Raga menghampiri Lala dan menghapus airmatanya. “Ga, kamu mau kan?” lala menekankan.
“Tapi…aku udah milih kamu La, kamu ingetkan dulu aku udah bilang ke kamu tentang perasaanku” protes Raga.
“Aku mohon Ga, demi aku” pinta Lala disela isak tangisnya.
Tak tega melihat Lala, Raga pun mengiyakan permintaan Lala. Sakit, pedih, perih kini menggelayut di hati Raga. Dengan hati tersayat, Raga mengantar Lala dan Rima pulang.
* * *
Sejak saat itu Lala memutuskan untuk tinggal bersama kakeknya di depok. Semua ini ia lakukan agar ia tidak terlalu banyak menyakiti perasaan Raga dan Rima. Kini semua waktu luang, Lala isi dengan berbagai kegiatan social dan keagamaan yang ia rintis dengan beberapa pemuda Islam di lingkungan rumahnya.
“La, besok kamu yang datang menghadiri seminar Membentuk Keluarga yang SAMARA ya!” pinta mba Reni.
“Seminar keluarga SAMARA mba? Apaan tuh mba? Masa aku sih mba?” tolak Lala.
“Keluarga SAMARA itu sakinah, mawadah dan warahmah. Kalo bukan kamu siapa lagi? Kamu tega ngeliat mba datang ke sana dengan perut gendut begini? Ya siapa tahu melalui seminar itu kamu bisa menemukan soulmate kamu.” tanya mba Reni.
“Ah mba apa sih? Iya deh besok aku yang datang, jam sembilan di walikota kan mba?”
“Iya jangan telat ya! Nanti malah jadi pusat perhatian lho!” ledek mba Reni.
* * *
Tiga bulan kemudian
“La, gimana persiapan buat acara festival seni Islam besok? Dah siap semua?” tanya mba Reni
“Alhamdulillah, udah siap semua mba, tapi…untuk Penceramah kita belum ada kepastian nih mba.” Jawab Lala
Kring…kring…kring…
“Assalamu’alaikum, Yayasan Peduli Umat. Tunggu sebentar ya!” ujar mba mba Leni. “La, ada telpon nih dari Raga, katanya penting.” Lanjutnya lagi
Raga? Kok dia tahu no yayasan ini ya? Tanya hati Lala.
“Asslamu’alaikum, La, Rima kecelakaan sekarang ada di rumah sakit PMI, kalo bisa kamu ke sini sekarang.” Ucap Raga terburu-buru.
“Iya, Ga sekarang aku ke sana” jawab Lala. Lala pun segera merapikan tasnya dan berpamitan dengan mba Reni.
Sesampainya di rumah sakit, Lala mendapati Rima sudah terkulai lemah dengan infus menghias peergelangan tangannya yang mungil.
“Ga, kok bisa begini sih!” tanya Lala dengan berurai airmata.
“Aku dah ceritain semua La. Dia yang maksa aku buat nyeritain semuanya, karena dia bingung setelah kamu pergi tanpa kasih kabar ke dia.” Jawab Raga. Airmata mulai menggenangi pelupuk mata Raga. “Dia ngerti kok, tapi…pas aku mau nyebrang tiba-tiba ada sebuah mobil melaju kencang ke arahku lalu Rima mendorong tubuhku dan….” Kata-kata Raga terputus karena tak bisa menahan tangisnya.
Lala mengeluarkan tisu dan memberikannya kepada Raga. “Ga, sabar ya! InsyaAllah Rima akan baik-baik aja kok!” hibur Lala. “Sekarang kamu temenin Rima dulu ya! Aku mau keluar sebentar.” Lanjut Lala.
“La, Rima udah sadar.” Panggil Raga.
Lala pun duduk di sebelah Rima dan menggenggam jemarinya yang lentik sedangkan Raga berdiri di samping Lala. “La…lala…maafin aku ya! Gara-gara aku kamu pergi ninggalin Raga..” ucap Rima dengan suara lemah.
Lala tersenyum, “Ga, kok Rim aku ga papa…” jawab Lala sambil menoleh ke arah pintu karena terdengar suara pintu terbuka. “Kamu sekarang harus cepat sembuh dan ga usah mikirin hal itu lagi, karena kini aku sudah memiliki pengganti Raga” lanjut Lala sambil menunjuk seorang lelaki yang baru saja masuk ke ruangan itu.
“Maksud kamu…” ucapan Rima terputus.
“Iya…Rim, dia suami aku, mas Abi namanya kami menikah dua bulan yang lalu. Maaf ya kalo kami ga ngundang kamu dan Raga” Jelas Lala.
“ Jadi kapan kalian menyusul kami? Lala sudah banyak cerita tentang kalian lho!” ledek mas Abi.
“Iya mas mungkin nanti setelah Rima sembuh, itupun kalo Rima mau mas sama saya” ujar Raga sambil tersenyum.
Rona pipi Rima menjadi merah. Semua pun tertawa melihat Rima dan Raga yang salah tingkah. Setelah dua minggu menjalani perawatan di rumah sakit, Rima pun keluar dari rumah sakit. Tepat sepuluh hari berikutnya mereka mengikararkan cinta mereka dengan nama Rabb dan membina sebuah keluarga sakinah.

Pernik Virus Warna Pink


Virus warna pink? Apaan tuh? Emangnya ada? He…he…jangan penasaran gitu dong! Virus ini hadir seperti jalangkung. Lho seperti jalangkung? Kenapa? Karena datang ga diundang dan pergi ga dianter. Hi….serem juga ya! Sepintas emang serem tapi kalo serem kenapa ada orang yang terlena dengan si warna pink ini ya! Jadi kita harus berhati-hati and warning terhadap si pink ini. Karena ga ada yang bisa menjamin hati kita tidak punya sama sekali simpati pada orang lain, iya kan? Ya gini-gini juga kitakan manusia yang dibekali perasaan sama Allah. Ga mungkin kan kita ga punya rasa simpati pada orang! (Klo emang ga punya wah…ada yang salah tuh sama hati kita?)
Si pink ini berawal dari mata turun ke hati, atau pepatah jawa yang berbunyi witing tresno jalaran suku kulino. Kok bisa? Apa hubungannya mata sama hati? Trus apa hubungannya sering ketemu bisa menimbulkan seneng neng hati? Yups…pasti ada hubungannya, coba kalo kita lagi sedih pasti mata kita langsung merespon dengan mengeluarkan airmata or kalo kita melihat sesuatu yang indah pasti hati kita berdecak kagum karena keindahannya. Wah…apalagi yang satu ini ya, seringnya intensitas bertemu berarti semakin bertambah pula peluang si mata ini mencuri-curi pandang. So, hati-hati karena tanpa sadar mata dan hati selalu menipu daya kita.
Trus gimana dong? Biar si pinky tea teh teu ngaganggu aktivitas anjeun? Ulah bingung kitu atuh, tenang wae…insyaAllah selama kita tetap menjaga kedekatan kita sama Allah insyaAllah Ia pun akan selalu menjaga hati kita agar selalu bersih dari si pinky. Sibukkan diri kita dengan aktivitas yang menambah kedekatan kita dengan Sang Rabbul Izzati, sering berkumpul dengan orang-orang yang soleh and solehah, saling mengingatkan sesama saudara dan ingat kita harus memberikan yang terbaik lho buat pasangan hidup kita nanti. Emangnya kita mau menjadi permaisuri atau raja di hati pasangan kita sebagai orang yang kedua, ketiga atau selanjutnya. Jadi, klo kita mo ngedapetin yang terbaik kita pun kudu, mesti harus menjadi yang terbaik juga, ya kan?
Well, sekarang kita harus bisa menjaga dan terus menjaga hati ini agar si pink tidak mewarnai hati kita (kecuali sesudah ijab Kabul terucap ya! He…he…). Ya klo dah ijab kabul mah ga masalah si pink mo mewarnai hati kita wong sudah halal, tapi….jangan sampe si pink ini lebih besar kadarnya daripada cinta kita pada Allah, Rasulullah dan Islam tentunya….

KENAPA IKHWAN ‘ENGGAN MENIKAH’?


Mereka menanti dengan gundah. Mempertebal keimanan. Memperbaiki diri. Bahkan mengajukan “proposal kesiapan” pada sang murobbi. Namun, apa mau dikata, jodoh dinanti tak jua datang.
Para akhwat ini lantas mulai membisikkan kesah di antara sesama, apakah ada faktor lain yang luput dari perhatian? Sebab jumlah ikhwan bujangan nyatanya toh cukup banyak tercantum di dalam “daftar pergaulan”. Tapi mengapa mereka nampak seolah-olah semakin enggan menyegerakan pernikahan?
Merunut pada satu atau dua decade lalu, pernikahan di anatar ikhwan dan akhwat tampak begitu mudah terwujud. Sebentuk kemauan seolah cukup dirangkai menjadi tekad bulat. Lewart sang murobbi atau perantaraan teman sendiri, satu demi satu pasangan muda mantap mengarungi bahtera rumah tangga.
Menikah adalah sebuah ibadah, penguatan dakwah dan sunnah Rasulullah, So untuk apa menunda-nundanya?
Namun kini, dunia telah berubah. Jumlah lajang ikhwan dan akhwat ditenggarai semakin banyak namun herannya soal pernikahan tak lantas menjadi semakin marak. Bila diingat bahwa sebagian besar akhwat masih menjadi pihak yang menanti datangnya jodoh dan dibatasi “jam biologis” yang cukup ketat mengikat, pertanyaan pun akhirnya disapaikan kepada para ikhwan yang ditenggarai semakin betah berlama-lama melajanga. Mengapa akhi?
Menurut Ustadz Amang Syarifudin ternyata faktor kemtangan tarbiyah bisa mempengaruhi ikhwan kematangan kepribadian. Kematangan tarbiyah ini didapat melalui tarbiyah dzatiyah (proses pembelajaran secara individual) ataupun lewat mekanisme tarbiyah di masyarakat semacam majelis taklim atau aneka pengajian, yang ternyata mampu mengasah pribadi-pribadi muslim untuk memiliki pemahaman yang mendalam dan keyakinan yang mengakar soal pernikahan.
Menikah adalah sebuah ibadah, sunnah Rasul, jalan untuk memelihara kesucian diri, mengasah tanggung jawab dan akan mematangkan proses pendewasaan dirinya benar-benar dipahami dan diyakini dengankuat, sehingga bimbingan Allah ,liddiniha benar-benar dijadikan ukuran utama untuk menyegerakan pernikahan.
Sejalan dengan penuturan Ustadz Amang Syarifudin, Indra Sakti seorang psikolog menyatakan bahwa kondisi lingkungan juga yang mempengaruhi perubahan pola pikir dan perilaku banyak orang soal menikah. Perubahan pemikiran ini kemungkinan dipengaruhi oleh dinamika social budaya masyarakat termasuk industrialisasi. Dulu pada tahuan 70an belum menikah di usia 20 tahun sudah tergolong terlambat, tetapi kini melajang di atas 30 tahun pun terhitung masih biasa-biasa saja. Dalam hidup manusia tetap memiliki tugas perkembangan kemanusiaan yang tak berubah, yaiut fase-fase perkembangan diri yang setiap tahapnya memiliki aktivitas utama yang harus dijalalani dan amat berguna untuk proses penapakan hidup selanjutnya. Bila ada satu tugas terlewat, tentu dia akan kesulitan menapaki proses selanjutnya.
Memang sih, usia menikah tidak bisa diukur sama rata, tergantung kematangan dan kesiapan diri. Batas awal usia menikah yang dianggap umum pada tiap kultur masyarakat pun berbeda. Ada yang dimulai pada usia belasan tahun, ada yang dua pulu tahunan. Sakti menjelaskan, batas akhirnya cenderung sama, yaitu pada akhir 30an, karena bila dilihat dari tugas perkembangan manusia, usia menjelang 40 tahun ini seseorang sudah mulai memasuki fase menemukan hakikat hidup, pemaknaan akan tujuan hidup, arah hidup dan sejenisnya.
Kalau begitu, bagaimana bila sesosok ikhwan meski sudah memasuki usia umum menikah masih betah menjomlbo karena punya alas an khusus berkaitan dengan syarat atau pilihan yang belum pas, belum ketemu calon yang cocok? “punya syarat dan pilihan sah-sah saja, seperti misalnya ingin calon istri yang berprofesi sebagai dokter. Boleh-boleh aja kok!” ujar Ustadz Amang. “tetapi akhwat yang berprofesi dokter kan tidak banyak, dari yang ada pun pasti punya pilihan juga. Jadi jangan sampai menikah terhambat gara-gara ingin mendapat calon berprofesi dokter” jelasnya.
Sedikit berbeda, Sakti menyebutkan bahwa soal ketidaksiapan ekonomi umumnya hanya sekedar menjadi “kambing hitam”. “Saya mendapati kenggana atau betahnya sang ikhwan menjomblo sebenarnya lebih dikarenakan keengganannya untuk bertanggung jawab” ungkapnya.
Berdasarkan pengalamannya sebagai psikolog, keengganan menikah pihak lelaki dalam menikah umunya terdiri dari tiga alas an besar; pertama karena dia tidak betul-betul meyakini yipe mana yang cocok buat dia sehingga selalu saja melihat calon yang ditawarkan todak cocok. Kedua, keraguan untuk bertanggung jawab terhadap orang lain. Dan ketiga, ketiadaan kemandirian sosial. Maka demi menghindarkan dii dari alas an-alasan ang sesungguhnya berpangkal pada persoalan kepribadian sendiri, mulai sekarang asahlah diri agar semakin matang dan tidak ragu-ragu lagi untuk menikah. Wallahu’alam. Ayo akhi….ingat banyak para akhwat yang menanti kehadiranmu untuk mengarungi jalan dakwah ini bersama-sama. Dan sekarang sejebak kita renungi surat An-Nuur ayat 32 iini semoga dapat menguatkan hati kita untuk menyegerakan pernikahan.

7 PELENGKAP PROPERTI KEPRIBADIAN

Ada tujuh langkah pelengkap kepribadian yang perlu dimiliki atau diasah dalam hidup.
Pertama, seseorang perlu memiliki kepastian tipe pasangan yang dia kehendaki. Darimana tahunya? Tentunya dari masa perkembangan sebelumnya, yaitu pengalaman hidupnya di masa remaja atau kanak-kanak. Tetapi langkah ini bukan didapat melalui pacaran lho! Karena biasanya cara pandanga kita menjadi tidak objektif lagi.
Kedua, dia mesti and kudu paham bahwa di dunia ini semua manusia, setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan. So, jangan mencari pasangan hidup yang sempurna he…..he….karena ga ada yang sempurna di dunia ini. Ingatlah akhi/ukhti kekeurangan seseorang bisa jadi itu kelebihan dan ladag amal buat dia lho! He…he…ngutip tulisan temen nih!
Ketiga, memiliki kemampuan mengambil keputusan sehingga tak selalu berada dalam keruguan dan bergantung pada keputusan orang lain.
Keempat, kemampuan bertanggung jawab. Bila sudah mampu membuat keputusan, maka yang perlu dimiliki dan diasah selanjutnya adalah kemampuan bertanggung jawab pada diri sendiri dan bahkan juga bertanggung jawab terhadap orang lain.
Kelima, kemandirian ekonomi. Kemandirian ini bukan diukur dalam bentuk harta , tabungan dan sejenisnya, tetapi diukur dalam ukuran psikologis dimana seseorang yang mandiri secara ekonomi adalah dia yang memiliki etos kerja atau etos mencari nafkah.
Keenam, kemampuan berinteraksi. Bila langkah kedua berbicara memag=ham orang lain, langkah keenam ini berarti dia mampu bertindak fleksibel dalam berinteraksi dengan orang lain.
Ketujuh and last, memiliki kematangan emosional yaitu kemampuan untuk memahami apa yang dia rasakan bisa merasakannya dengan benar dan mampu mengekspresikan perasaan itu dengan benar.

(Resume by Ummi magazine)