Suasana perpustakaan UNJ begitu lengang, hanya ada beberapa orang yang sedang asyik menekuni bacaannya. Lala memandangi ruang perpustakaan dengan seksama hingga ia memutuskan untuk duduk di pojok ruangan yang tepat menghadap halaman universitas. Jemari lentiknya mulai bergerak mencatat isi buku yang ia baca. Sesaat ia menengok jam yang melingkar di pergelangan tangannya, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 11.25.
“Kok, Rima belum datang juga ya!” ujar hatinya cemas. Untuk menenangkan hatinya, ia pun mengalihkan pandangannya ke luar jendela, mengamati rintik-rintik hujan yang mulai turun. Pikiran Lala pun melayang pada peristiwa tiga tahun silam, tepatnya saat ia masih berada di kelas 2 SMU.
“La, ada yang mau aku omongin sama kamu…” ujar Raga yang telah duduk di hadapannya.
“Mau ngomong apa sih Ga?” kok serius banget sih!” Tanya Lala sambil merapikan buku pelajaran yang masih tergeletak di atas meja.
Perlahan Raga memegang jemari Lala yang mungil. “La, aku mau kamu menjadi seseorang yang paling berharga dalam hidup aku” ujar Raga sambil menatap Lala tajam.
Lala pun menarik tangannya dan menunduk malu. Jantungnya berdegup sangat kencang. Wajah putihnya kini merona kemerahan, “Tapi….apa aku layak untuk kamu Ga?” jawab Lala dengam sedikit ragu.
“Aku yakin La, kamu adalah yang terbaik untuk aku” Rga meyakinkan. Lala terdiam, bibirnya seolah kelu untuk berucap….
“Hei ngelamun aja!!!” seru Rima yang membuyarkan lamunan Lala.
“Lho kok baru datang, udah telat 1 jam nih!!!” protes Lala sambil memonyongkan bibir mungilnnya.
“Sorry…sorry…tadi ada kuliah umum jadinya agak lama dikit” jelas Rima dengan wajah memelas.
Lala pun tersenyum sebagai tanda ia memaafkannya.
“La, Raga tahu kalo kamu mau ke sini?” Tanya Rima.
Lala menggeleng, “Aku sengaja kok gak ngasih tau dia takut ganggu kuliahnya. Emangnya kenapa?”
“Oh…ga…ga…ga kenapa-napa kok!” jawab Rima dengan senyum terkembang.
Allahu akbar…Allahu akbar…suara adzan memecah kebiasuan di antara mereka. Tanpa perlu dikomando lagi mereka bergegas menuju masjid untuk melaksanakan shalat dzuhur.
Setelah selesai shalat dzuhur, Rima menata kembali tasnya yang dipenuhi oleh diktat kuliahnya.
“La, boleh gak aku cerita sama kamu?” tanya Rima ragu.
“Ya boleh lah, emangnya mau cerita apa sih non!” sahut Lala sambil mencybit hidung mancung Rima.
“Tapi kamu gak marah kan La?” lanjut Rima.
Lala pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“la, a…a…a..ku…su…ka sama….Raga” ucapnya terputus-putus.
Lala bagaikan tersambar petir di siang bolong. Ternyata sahabatnya sendiri menyukai orang yang ia cintai.
“La…Lala…halo…” ujar Rima sambil mengerak-gerakkan tangannya di depan mata Lala. “Kenapa La, kamu marah ya?” tanyanya.
“Marah? Eng…enggak kok! Aku gak marah” jawab Lala sambil memaksa bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman. Ingin rasanya Lala berlari dan melepas kesedihannya. “Rim, kita pulang yuk! Udah siang nih!” Lala mengalihkan pembicaraan.
“Ok, tapi kita pamit sama Raga dulu ya!” pinta Rima sambil menarik tangan Lala. “Hai Raga, lagi ngapain? Kita pulang duluan ya!” ujar Rima.
“Rima…tunggu! Aku pinjam Lala dulu ya! Ada yang mau aku omongin sama dia” ijin Raga. “La, kamu kok ga bilang sih kalo kamu mau main ke kampus? Emangnya kamu gak kuliah?” tanya Raga.
“aku Cuma gak mau ganggu kuliah kamu aja kok Ga! Kebetulan hari ini di kampusku ada acara jadinya aku main ke sini” jawab Lala singkat. Kesenyapan kembali mengisi jarak anatar lala dan Raga. “Ga, aku boleh minta sesuatu ga? Tapi kamu janji ya mau melakukannya” ujar Lala ragu.
“Kalo aku bisa pasti aku lakuin demi kamu la!”
“Ga, aku mau …kamu menjaga Rima untuk aku” ucap Lala dengan suara tertekan menahan tangisnya.
“Apa? Maksud kamu apa La? Kok kamu ngomongnya ngaco gitu sih!” tanya Raga.
Lala tertunduk. Tangisnya pecah. Raga menghampiri Lala dan menghapus airmatanya. “Ga, kamu mau kan?” lala menekankan.
“Tapi…aku udah milih kamu La, kamu ingetkan dulu aku udah bilang ke kamu tentang perasaanku” protes Raga.
“Aku mohon Ga, demi aku” pinta Lala disela isak tangisnya.
Tak tega melihat Lala, Raga pun mengiyakan permintaan Lala. Sakit, pedih, perih kini menggelayut di hati Raga. Dengan hati tersayat, Raga mengantar Lala dan Rima pulang.
* * *
Sejak saat itu Lala memutuskan untuk tinggal bersama kakeknya di depok. Semua ini ia lakukan agar ia tidak terlalu banyak menyakiti perasaan Raga dan Rima. Kini semua waktu luang, Lala isi dengan berbagai kegiatan social dan keagamaan yang ia rintis dengan beberapa pemuda Islam di lingkungan rumahnya.
“La, besok kamu yang datang menghadiri seminar Membentuk Keluarga yang SAMARA ya!” pinta mba Reni.
“Seminar keluarga SAMARA mba? Apaan tuh mba? Masa aku sih mba?” tolak Lala.
“Keluarga SAMARA itu sakinah, mawadah dan warahmah. Kalo bukan kamu siapa lagi? Kamu tega ngeliat mba datang ke sana dengan perut gendut begini? Ya siapa tahu melalui seminar itu kamu bisa menemukan soulmate kamu.” tanya mba Reni.
“Ah mba apa sih? Iya deh besok aku yang datang, jam sembilan di walikota kan mba?”
“Iya jangan telat ya! Nanti malah jadi pusat perhatian lho!” ledek mba Reni.
* * *
Tiga bulan kemudian
“La, gimana persiapan buat acara festival seni Islam besok? Dah siap semua?” tanya mba Reni
“Alhamdulillah, udah siap semua mba, tapi…untuk Penceramah kita belum ada kepastian nih mba.” Jawab Lala
Kring…kring…kring…
“Assalamu’alaikum, Yayasan Peduli Umat. Tunggu sebentar ya!” ujar mba mba Leni. “La, ada telpon nih dari Raga, katanya penting.” Lanjutnya lagi
Raga? Kok dia tahu no yayasan ini ya? Tanya hati Lala.
“Asslamu’alaikum, La, Rima kecelakaan sekarang ada di rumah sakit PMI, kalo bisa kamu ke sini sekarang.” Ucap Raga terburu-buru.
“Iya, Ga sekarang aku ke sana” jawab Lala. Lala pun segera merapikan tasnya dan berpamitan dengan mba Reni.
Sesampainya di rumah sakit, Lala mendapati Rima sudah terkulai lemah dengan infus menghias peergelangan tangannya yang mungil.
“Ga, kok bisa begini sih!” tanya Lala dengan berurai airmata.
“Aku dah ceritain semua La. Dia yang maksa aku buat nyeritain semuanya, karena dia bingung setelah kamu pergi tanpa kasih kabar ke dia.” Jawab Raga. Airmata mulai menggenangi pelupuk mata Raga. “Dia ngerti kok, tapi…pas aku mau nyebrang tiba-tiba ada sebuah mobil melaju kencang ke arahku lalu Rima mendorong tubuhku dan….” Kata-kata Raga terputus karena tak bisa menahan tangisnya.
Lala mengeluarkan tisu dan memberikannya kepada Raga. “Ga, sabar ya! InsyaAllah Rima akan baik-baik aja kok!” hibur Lala. “Sekarang kamu temenin Rima dulu ya! Aku mau keluar sebentar.” Lanjut Lala.
“La, Rima udah sadar.” Panggil Raga.
Lala pun duduk di sebelah Rima dan menggenggam jemarinya yang lentik sedangkan Raga berdiri di samping Lala. “La…lala…maafin aku ya! Gara-gara aku kamu pergi ninggalin Raga..” ucap Rima dengan suara lemah.
Lala tersenyum, “Ga, kok Rim aku ga papa…” jawab Lala sambil menoleh ke arah pintu karena terdengar suara pintu terbuka. “Kamu sekarang harus cepat sembuh dan ga usah mikirin hal itu lagi, karena kini aku sudah memiliki pengganti Raga” lanjut Lala sambil menunjuk seorang lelaki yang baru saja masuk ke ruangan itu.
“Maksud kamu…” ucapan Rima terputus.
“Iya…Rim, dia suami aku, mas Abi namanya kami menikah dua bulan yang lalu. Maaf ya kalo kami ga ngundang kamu dan Raga” Jelas Lala.
“ Jadi kapan kalian menyusul kami? Lala sudah banyak cerita tentang kalian lho!” ledek mas Abi.
“Iya mas mungkin nanti setelah Rima sembuh, itupun kalo Rima mau mas sama saya” ujar Raga sambil tersenyum.
Rona pipi Rima menjadi merah. Semua pun tertawa melihat Rima dan Raga yang salah tingkah. Setelah dua minggu menjalani perawatan di rumah sakit, Rima pun keluar dari rumah sakit. Tepat sepuluh hari berikutnya mereka mengikararkan cinta mereka dengan nama Rabb dan membina sebuah keluarga sakinah.
“Kok, Rima belum datang juga ya!” ujar hatinya cemas. Untuk menenangkan hatinya, ia pun mengalihkan pandangannya ke luar jendela, mengamati rintik-rintik hujan yang mulai turun. Pikiran Lala pun melayang pada peristiwa tiga tahun silam, tepatnya saat ia masih berada di kelas 2 SMU.
“La, ada yang mau aku omongin sama kamu…” ujar Raga yang telah duduk di hadapannya.
“Mau ngomong apa sih Ga?” kok serius banget sih!” Tanya Lala sambil merapikan buku pelajaran yang masih tergeletak di atas meja.
Perlahan Raga memegang jemari Lala yang mungil. “La, aku mau kamu menjadi seseorang yang paling berharga dalam hidup aku” ujar Raga sambil menatap Lala tajam.
Lala pun menarik tangannya dan menunduk malu. Jantungnya berdegup sangat kencang. Wajah putihnya kini merona kemerahan, “Tapi….apa aku layak untuk kamu Ga?” jawab Lala dengam sedikit ragu.
“Aku yakin La, kamu adalah yang terbaik untuk aku” Rga meyakinkan. Lala terdiam, bibirnya seolah kelu untuk berucap….
“Hei ngelamun aja!!!” seru Rima yang membuyarkan lamunan Lala.
“Lho kok baru datang, udah telat 1 jam nih!!!” protes Lala sambil memonyongkan bibir mungilnnya.
“Sorry…sorry…tadi ada kuliah umum jadinya agak lama dikit” jelas Rima dengan wajah memelas.
Lala pun tersenyum sebagai tanda ia memaafkannya.
“La, Raga tahu kalo kamu mau ke sini?” Tanya Rima.
Lala menggeleng, “Aku sengaja kok gak ngasih tau dia takut ganggu kuliahnya. Emangnya kenapa?”
“Oh…ga…ga…ga kenapa-napa kok!” jawab Rima dengan senyum terkembang.
Allahu akbar…Allahu akbar…suara adzan memecah kebiasuan di antara mereka. Tanpa perlu dikomando lagi mereka bergegas menuju masjid untuk melaksanakan shalat dzuhur.
Setelah selesai shalat dzuhur, Rima menata kembali tasnya yang dipenuhi oleh diktat kuliahnya.
“La, boleh gak aku cerita sama kamu?” tanya Rima ragu.
“Ya boleh lah, emangnya mau cerita apa sih non!” sahut Lala sambil mencybit hidung mancung Rima.
“Tapi kamu gak marah kan La?” lanjut Rima.
Lala pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“la, a…a…a..ku…su…ka sama….Raga” ucapnya terputus-putus.
Lala bagaikan tersambar petir di siang bolong. Ternyata sahabatnya sendiri menyukai orang yang ia cintai.
“La…Lala…halo…” ujar Rima sambil mengerak-gerakkan tangannya di depan mata Lala. “Kenapa La, kamu marah ya?” tanyanya.
“Marah? Eng…enggak kok! Aku gak marah” jawab Lala sambil memaksa bibirnya untuk membentuk sebuah senyuman. Ingin rasanya Lala berlari dan melepas kesedihannya. “Rim, kita pulang yuk! Udah siang nih!” Lala mengalihkan pembicaraan.
“Ok, tapi kita pamit sama Raga dulu ya!” pinta Rima sambil menarik tangan Lala. “Hai Raga, lagi ngapain? Kita pulang duluan ya!” ujar Rima.
“Rima…tunggu! Aku pinjam Lala dulu ya! Ada yang mau aku omongin sama dia” ijin Raga. “La, kamu kok ga bilang sih kalo kamu mau main ke kampus? Emangnya kamu gak kuliah?” tanya Raga.
“aku Cuma gak mau ganggu kuliah kamu aja kok Ga! Kebetulan hari ini di kampusku ada acara jadinya aku main ke sini” jawab Lala singkat. Kesenyapan kembali mengisi jarak anatar lala dan Raga. “Ga, aku boleh minta sesuatu ga? Tapi kamu janji ya mau melakukannya” ujar Lala ragu.
“Kalo aku bisa pasti aku lakuin demi kamu la!”
“Ga, aku mau …kamu menjaga Rima untuk aku” ucap Lala dengan suara tertekan menahan tangisnya.
“Apa? Maksud kamu apa La? Kok kamu ngomongnya ngaco gitu sih!” tanya Raga.
Lala tertunduk. Tangisnya pecah. Raga menghampiri Lala dan menghapus airmatanya. “Ga, kamu mau kan?” lala menekankan.
“Tapi…aku udah milih kamu La, kamu ingetkan dulu aku udah bilang ke kamu tentang perasaanku” protes Raga.
“Aku mohon Ga, demi aku” pinta Lala disela isak tangisnya.
Tak tega melihat Lala, Raga pun mengiyakan permintaan Lala. Sakit, pedih, perih kini menggelayut di hati Raga. Dengan hati tersayat, Raga mengantar Lala dan Rima pulang.
* * *
Sejak saat itu Lala memutuskan untuk tinggal bersama kakeknya di depok. Semua ini ia lakukan agar ia tidak terlalu banyak menyakiti perasaan Raga dan Rima. Kini semua waktu luang, Lala isi dengan berbagai kegiatan social dan keagamaan yang ia rintis dengan beberapa pemuda Islam di lingkungan rumahnya.
“La, besok kamu yang datang menghadiri seminar Membentuk Keluarga yang SAMARA ya!” pinta mba Reni.
“Seminar keluarga SAMARA mba? Apaan tuh mba? Masa aku sih mba?” tolak Lala.
“Keluarga SAMARA itu sakinah, mawadah dan warahmah. Kalo bukan kamu siapa lagi? Kamu tega ngeliat mba datang ke sana dengan perut gendut begini? Ya siapa tahu melalui seminar itu kamu bisa menemukan soulmate kamu.” tanya mba Reni.
“Ah mba apa sih? Iya deh besok aku yang datang, jam sembilan di walikota kan mba?”
“Iya jangan telat ya! Nanti malah jadi pusat perhatian lho!” ledek mba Reni.
* * *
Tiga bulan kemudian
“La, gimana persiapan buat acara festival seni Islam besok? Dah siap semua?” tanya mba Reni
“Alhamdulillah, udah siap semua mba, tapi…untuk Penceramah kita belum ada kepastian nih mba.” Jawab Lala
Kring…kring…kring…
“Assalamu’alaikum, Yayasan Peduli Umat. Tunggu sebentar ya!” ujar mba mba Leni. “La, ada telpon nih dari Raga, katanya penting.” Lanjutnya lagi
Raga? Kok dia tahu no yayasan ini ya? Tanya hati Lala.
“Asslamu’alaikum, La, Rima kecelakaan sekarang ada di rumah sakit PMI, kalo bisa kamu ke sini sekarang.” Ucap Raga terburu-buru.
“Iya, Ga sekarang aku ke sana” jawab Lala. Lala pun segera merapikan tasnya dan berpamitan dengan mba Reni.
Sesampainya di rumah sakit, Lala mendapati Rima sudah terkulai lemah dengan infus menghias peergelangan tangannya yang mungil.
“Ga, kok bisa begini sih!” tanya Lala dengan berurai airmata.
“Aku dah ceritain semua La. Dia yang maksa aku buat nyeritain semuanya, karena dia bingung setelah kamu pergi tanpa kasih kabar ke dia.” Jawab Raga. Airmata mulai menggenangi pelupuk mata Raga. “Dia ngerti kok, tapi…pas aku mau nyebrang tiba-tiba ada sebuah mobil melaju kencang ke arahku lalu Rima mendorong tubuhku dan….” Kata-kata Raga terputus karena tak bisa menahan tangisnya.
Lala mengeluarkan tisu dan memberikannya kepada Raga. “Ga, sabar ya! InsyaAllah Rima akan baik-baik aja kok!” hibur Lala. “Sekarang kamu temenin Rima dulu ya! Aku mau keluar sebentar.” Lanjut Lala.
“La, Rima udah sadar.” Panggil Raga.
Lala pun duduk di sebelah Rima dan menggenggam jemarinya yang lentik sedangkan Raga berdiri di samping Lala. “La…lala…maafin aku ya! Gara-gara aku kamu pergi ninggalin Raga..” ucap Rima dengan suara lemah.
Lala tersenyum, “Ga, kok Rim aku ga papa…” jawab Lala sambil menoleh ke arah pintu karena terdengar suara pintu terbuka. “Kamu sekarang harus cepat sembuh dan ga usah mikirin hal itu lagi, karena kini aku sudah memiliki pengganti Raga” lanjut Lala sambil menunjuk seorang lelaki yang baru saja masuk ke ruangan itu.
“Maksud kamu…” ucapan Rima terputus.
“Iya…Rim, dia suami aku, mas Abi namanya kami menikah dua bulan yang lalu. Maaf ya kalo kami ga ngundang kamu dan Raga” Jelas Lala.
“ Jadi kapan kalian menyusul kami? Lala sudah banyak cerita tentang kalian lho!” ledek mas Abi.
“Iya mas mungkin nanti setelah Rima sembuh, itupun kalo Rima mau mas sama saya” ujar Raga sambil tersenyum.
Rona pipi Rima menjadi merah. Semua pun tertawa melihat Rima dan Raga yang salah tingkah. Setelah dua minggu menjalani perawatan di rumah sakit, Rima pun keluar dari rumah sakit. Tepat sepuluh hari berikutnya mereka mengikararkan cinta mereka dengan nama Rabb dan membina sebuah keluarga sakinah.



